Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Wednesday, June 26, 2013

Goresan Rindu




Hujan ini, meninggalkan jejak berbau basah
Tetes – tetes air menyapa dinding – dinding kaca berwarna kelam
Ku titipkan rinduku pada daun – daun yang basah oleh embun
Karena angin begitu enggannya untuk menyampaikannya padamu

Ada hati yang hampa ditinggal kenangan
Menanti diisi oleh sang waktu
Bahagia terasa begitu dekat dengan kepedihan
Hingga tunas bunga pun tak peka membedakannya

Kau ciptakan pelangi di ujung bumi
Dan kau biarkan mentari bertahta di singgasananya
Goresan rindu ini, seabadi kuncup yang dicumbu waktu

*teruntuk 28 Juni, semoga kau bahagia selalu, dengan pilihan Tuhan untukmu J

Wednesday, January 23, 2013

Surat untuk Ibu



Ibuku sayang,

Bagaimana kabar engkau hari ini?? Semoga Allah selalu menjagamu dalam keadaan sehat dan bahagia.

Ibu...
Maafkan anakmu ini yaa. Dalam 22 tahun nafas yang diberikan Allah untukku, mungkin belum banyak kebanggaan dan kebahagiaan yang kuberi untuk Ibu. Pun sekarang, aku belum bisa mewujudkan cita-cita Ibu untuk memakai toga. Semoga bulan Juni nanti Ibu dan Bapak sudah bisa melihatku memakai toga. Aku ingin memberikan senyum kebanggaan pertama untuk kalian.

Ibu...
Tak ada kata-kata indah yang mampu menandingi kebaikanmu. Kasihmu lebih lembut dari sutra. 
Ibu...
meski tak setiap hari kau menelpon, sms, atau menanyakan kabarku, tapi aku tahu kau tak pernah lupa me-mention ku setiap saat, dalam setiap doamu. Ku mohon ibu tak khawatir dengan keadaanku, karena aku baik-baik saja disini, berkat doa Ibu.

Ibu...
maaf, aku tak pernah mampu merangkai kata-kata indah untukmu. Aku hanya ingin mengatakan, aku sayang sekali pada Ibu. Aku ingin segera pulang ke rumah dan memeluk Ibu. Meski mungkin itu nanti tak kulakukan. Maaf ibu, aku memang lebih sering gengsi menunjukkan rasa cintaku pada ibu L.

Ibu...
Besok aku akan pulang ke rumah. Oya, ibu tak perlu selalu memasakkan makanan enak setiap aku pulang. Karena bagiku, semua masakan ibu selalu enak di lidahku. Bu, jangan terlalu capek mengerjakan pekerjaan rumah yaa. Seringlah beristirahat dan sekali-kali berjalan-jalan lah untuk menghilangkan penatmu.

Sudah dulu ya bu suratku
aku harus segera tidur agar besok bisa pulang pagi. Sampai jumpa di rumah. Doakan aku selamat sampai rumah yaa bu...

Selamat malam dan selamat istirahat ibu

Dari anakmu yang masih di tanah rantau

Friday, October 19, 2012

Getar Biasa



Kali ini ada yang berbeda
rasa yang berbeda
tak ada lagi getar itu
tak ada lagi “deg-deg an” saat menemuimu
semua telah biasa

Kembali seperti semula
seperti saat pertama berjumpa
tanpa getar, tanpa rasa

Luar biasa
pesonamu tak sirna
Hanya hatiku yang tak lagi memiliki rasa
biasa, seolah tak pernah ada

Harus kuakui ada rasa yang lain
pada dia yang bukan engkau
pada dia yang diam-diam membuatku jatuh
aku tak tau samakah rasa ini dengannya
hanya saja ia berhasil menggeser posisimu

Tidak, tidak, ia bukan pemain cadangan yang ditugaskan untuk menggantikan posisimu
Ia pemain baru yang sudah lama ku kenal
dengan pesona dan kemampuan yang berbeda denganmu

Getar yang dulu kusimpan untukmu
Biarlah kini ia menjadi milik yang lain
Toh, kau juga sudah menetapkan keputusan
pada siapa getarmu kau berikan
bukan untuk ku

Getar itu, sudah biasa
J

Friday, October 12, 2012

Nantikanku di Batas Waktu



Hari ini aku kembali ke kota rantauku, Solo, setelah seminggu lamanya menikmati kemewahan di rumah tercinta. Meneruskan aktivitas sebagai mahasiswi tingkat akhir yang harus menyelesaikan syarat bagi gelar sarjana yang kelak akan kusandang. Berbeda dengan biasanya, pagi  ini aku memilih naik kereta ekonomi Madiun Jaya. Biar lebih nyaman dan nggak kesiangan nyampe solo dan bisa ke kampus, pikirku. Jam 05.50 aku sampai di stasiun Madiun, beli tiket, dan langsung ku naiki kereta yang sudah terparkir. Ah, masih sekitar setengah jam lagi berangkatnya. Langsung ku pilih gerbong 1 kursi nomor 2 kiri dari pintu dan aku duduk di dekat jendela. Penumpang lain hilir mudik menaiki kereta yang masih sepi, mencari kursi nyaman mereka masing-masing.
          Semakin siang dan semakin ramai. Semoga nggak ada yang duduk di sebelahku. Ya, aku memang lebih suka duduk sendiri kalo menggunakan transportasi kereta jarak dekat. Tujuannya agar tak ada yang mengajakku mengobrol dan aku dapat menikmati pemandangan di tepian rel sepuasnya. 06.15 WIB, kereta mulai bergerak ke arah barat, berjalan perlahan menjauhi sinar matahari yang terpancar dari arah timur. Syukurlah aku memang duduk sendiri.
          Dalam teraturnya perjalanan kotak besi ini ke tujuannya, tiba-tiba aku membayangkan kau berjalan melintasi gerbong kereta ini, lalu tiba-tiba menyapaku, dan duduk di kursi depanku. Lalu kita akan mengobrol sepanjang perjalanan. Meskipun aku akan turun lebih dulu di Solo, dan kau akan melanjutkan perjalananmu ke Jogja. Tiba-tiba aku tersadar. Ah, itu nggak mungkin. Kamu kan sekarang sudah di Bandung. Nggak mungkin kalo kamu tiba-tiba muncul di kereta ini. Ah, bodohnya.
          Namun aku meneruskan menikmati lamunanku. Biar saja, toh ini menyenangkan. Setidaknya lamunan ini tak membuatku merasa kesepian. Kau tahu, dari dulu aku berharap kita bisa naik kendaraan yang sama dalam satu waktu perjalanan, entah perjalanan pulang atau kembali ke kota rantau masing-masing. Seringkali aku berharap suatu saat kita bertemu di bis tiba-tiba, lalu kita duduk sebangku. Pasti perjalanan dengan Sumber Kencono tak akan memuakkan dan memualkan seperti itu. Tapi ku pikir, kau pasti akan memilih transportasi lain selain Sumber Kencono :D
          Aku juga berharap kalo aku lagi main ke Jogja, tiba-tiba kita ketemu di tempat yang aku kunjungi. Setidaknya walau kita cuma akan saling sapa atau mengobrol sebentar, aku bisa melihatmu. Aku ingin melihat perubahan penampilanmu setelah beberapa tahun tak bertemu. Tapi sayangnya itu tak pernah terjadi, bahkan sampai kau meninggalkan Jogja dan merantau ke kota lain demi pekerjaanmu. Tapi alhamdulillah Allah masih mengijinkan kita bertemu dan bersilaturahmi meski hanya di dunia maya J
          Oya, seminggu di kota kita ternyata aku baru tau kalo banyak sekali perubahan di wajah kota tercinta. Alun-alun, masjid agung, toko-toko terlihat lebih cantik dan indah. Kota ini semakin ramai dengan anak-anak muda yang hobi nongkrong malem-malem. Oh iya, aku sempet lewat sekolah kita dulu. Aneh, tiba-tiba aku merasa deg-deg an. Lalu rindu. Rindu pada aktivitas di sekolah itu dulu. Rindu pada kenangan yang pernah  kita dan semuanya torehkan di sana. Dan tiba-tiba rindu pada.......kamu.
          Ah, akhir-akhir ini jadi sering buka buku memory SMA, melihat fotomu, membaca kata-kata yang kau tuliskan disana. Meskipun ku tatap ratusan kali pun biomu di situ tak akan berubah satu huruf pun. Tapi entah kenapa tanganku selalu tergerak untuk membukanya. Melihatnya lama, lalu teringat semua kenangan tentangmu, kalimat sapaan khusus kita, guyonan kita ketika pertama kali kita mengobrol, dan juga kebiasaanku mencari-cari kesempatan untuk bertemu denganmu saat pergantian jam pelajaran.
          Sekian tahun tak bertemu, kita dipertemukan di dunia maya. Kau memang telah berubah. Menjadi kau yang semakin baik. Semakin dekat dengan ajaran agama. Subhanallah. Kau tau?? aku begitu rajin membuka catatan percakapan kita. Membaca dan mengingat pesan yang tidak pernah lupa kau selipkan untukku di setiap akhir percakapan kita. Lalu perlahan-lahan mempraktekkannya di hidupku. Juga doamu untukku agar aku segera lulus. Semoga aku segera menyusulmu yaa...
          Dan aku pun merasakan kembali getar-getar lama yang sempat redup. Ah entah apa ini namanya. kagum atau cinta kah?? yang jelas aku terpesona pada nasehat-nasehatmu. Terpesona pada kata-kata indahmu yang senantiasa mengingatkan kepada Ia Sang Maha Pencipta. Aku selalu merindukan setiap ajaran baik yang kau contohkan padaku.
          Semoga apapun rasa ini, akan diberikan ujung yang indah olehNya yaa J Kita sama-sama diberikan waktu untuk terus memperbaiki diri. Semoga apabila memang rasa ini direstui olehNya, kita akan disatukan dalam halalNya yang indah. Aamiin yaa Rabb...
Nantikanku di batas waktu yaa J

Di kedalaman hatiku
Tersembunyi harapan yang suci
Tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata
(Edcoustic)