Showing posts with label refleksi diri. Show all posts
Showing posts with label refleksi diri. Show all posts

Friday, July 20, 2012

Bilik Cinta di Penjara


Lagi-lagi kembali tercengang dengan sebuah tayangan berita. Bukan oleh berita kemiskinan atau kekerasan yang biasa menghiasai layar kata kita. Tetapi oleh berita tentang sebuah tempat yang bernama “penjara”. Ya penjara. Sebuah nama yang kita tahu sebagai tempat mengurung pelaku tindak kriminal untuk menghukum dan memberikan efek jera kepada mereka. Tempat yang mengekang kebebasan para penghuninya. Tapi di berita tadi kata “penjara” menjadi begitu menarik di telinga saya. Mengapa?? Karena di penjara ada bilik untuk bercinta.
Ya, fakta yang cukup mencengangkan tersebut benar-benar terjadi di sebuah penjara di Indonesia. Fenomena “penjara mewah” ini bukan terjadi pertama kali ini. Bila kita ingat, ada beberapa fasilitas mewah yang ditawarkan “kurungan” itu kepada penghuni-penghuninya yang berasal dari kelas atas. Fasilitas jalan-jalan ke luar negeri dan nonton pertandingan olah raga (ingat kasus Gayus Tambunan), fasilitas kamar mewah layaknya hotel bintang 5, spa, dan ruang karaoke (kasus Arthalyta Suryani). Dan sekarang ada lagi fasilitas yang dinamakan “bilik cinta” yang disediakan khusus untuk bercinta. Oh my God, apa lagi ini??

Wednesday, July 11, 2012

Ia yang sering terlupakan

Tuhan betapa aku malu
Atas semua yang kau beri
Padahal diriku terlalu sering
Membuatmu kecewa

Entah mungkin karna ku terlena
Sementara Engkau beri aku kesempatan
Berulang kali agar aku kembali

Dalam fitrahku sebagai manusia
Untuk menghambakanMu
Betapa tak ada apa-apanya
Aku di hadapanMu

Aku ingin mencintaiMu setulusnya
Sebenar-benar aku cinta
Dalam doa, dalam ucapan, dalam setiap langkahku
Aku ingin mendekatiMu selamanya
Sehina apapun diriku
Ku berharap untuk bertemu denganmu Ya Rabbi
(Edcoustic)

Sebuah lagu dari Edcoustic (yang aku pun tak tau judulnya) seakan mengingatkan betapa seringnya kita melupakan Allah. Seringkali kita terlena dalam urusan duniawi dan tanpa rasa berdosa Ia yang seharusnya kita ingat dalam setiap urusan dan waktu yang kita miliki menjadi terlupakan. Seringkali pula kita hanya mengingatNya di kala kita sedih, namun di kala kebahagiaan datang menghampiri seringkali kita lupa untuk bersyukur. Namun Allah begitu baik, Ia tidak pernah meninggalkan kita walau kadang kita melupakannya. Ia juga selalu mau menerima ketika kita ingin kembali padaNya.
Tuhan, maafkan diriku yang sering melupakanMu. Maafkan aku yang sering suudzan padaMu. Selama ini Engkau telah banyak menunjukkan jalan yang baik untukku, meskipun mungkin seringkali aku membencinya. Hanya dua kata yang pantas kuucapkan untukMu. Maaf dan Terimakasih. Maaf untuk segala kesalahan yang pernah ku perbuat. Maaf aku belum bisa menjadi hamba yang benar-benar mencintai Engkau.
Terimakasih ku ucapkan atas semua nikmat yang telah Kau beri. Terimakasih atas kehidupanku yang indah dan berwarna ini. Terimakasih atas semua rasa bahagia, sedih, anugrah dan masalah yang telah Kau berikan. Semuanya membuatku belajar tentang  banyak hal. Sekali lagi, trimakasih Ya Allah ^^
(ditulis pada 13 Juli 2010 pukul 12:09)

Monday, May 7, 2012

83 Tahun Sumpah Pemuda, Kemana Pemuda Kita??



Bukan tulisan yang penting, tidak berdasarkan referensi ilmiah. Hanya mencoba menuangkan kerisauan hati pada selembar kertas, dan agar menjadi refleksi terhadap diri sendiri
Hari ini 83 tahun peringatan sumpah pemuda. 83 kali janji sumpah pemuda dikumandangkan. Mungkin kita sudah hafal, bahkan bosan mendengar bunyi kata-katanya. Menilik sebentar sejarah bangsa kita, 83 tahun lalu pemuda-pemuda bangsa kita berkumpul, mengucapkan sumpah yang merupakan bukti nasionalisme dan rasa cinta mereka terhadap bangsa Indonesia. Mari kita bandingkan dengan kondisi pemuda kita sekarang. Jumlah pemuda Indonesia sekarang tak kalah banyak dengan jumlah pemuda saat itu. Malah mungkin jauh lebih banyak. Namun dimana pemuda-pemuda kita di saat kondisi bangsa semakin terpuruk seperti sekarang??
Memang tak dapat dipungkiri peran para pemuda bagi bangsanya. Ketika kita mengingat perisitiwa Reformasi pada Mei 1998, kita ingat saat itu para pemuda kita yang pemberani lah yang berhasil menggulingkan pemerintahan Soeharto setelah berkuasa selama 32 tahun. Bahkan presiden pertama kita, Soekarno pernah berkata “Beri aku 10 pemuda maka aku akan mengoncangkan dunia”. Ini membuktikan betapa luar biasanya peran pemuda. Pemuda selalu diharapkan jadi agent of change, garda terdepan dalam membela rakyatnya. Namun jika kita lihat kondisi pemuda Indonesia sekarang, sangat jauh dari apa yang diharapkan. Para pemuda sekarang justru terlena oleh berbagai kemewahan yang dinikmatinya sehingga mereka lupa dengan peran dan tanggung jawabnya yang sebenarnya.
Dahulu para pemuda memiliki 1 musuh yang sama, yaitu penjajah. Para pemuda bergabung jadi 1 menggalang kekuatan untuk mengusir penjajah dari tanah air tercinta. Namun sekarang para pemuda menghadapi musuh yang berasal dari dirinya sendiri. Kemalasan, sikap apatis, egois dan berbagai hal negatif lain mendera para pemuda. Selain itu para pemuda masih memiliki musuh yang sama, penjajah, namun penjajah yang berasal dari negerinya sendiri. Penjajah yang bersorak gembira di atas penderitaan bangsanya sendiri.
Sejak peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, banyak bermunculan organisasi-organisasi pemuda. Pada awalnya organisasi-organisasi pemuda tersebut memiliki tujuan mulia yang sama, memperjuangkan nasib rakyat Indonesia yang masih terpuruk dalam ketidaksejahteraan. Namun jika kita lihat kondisi organisasi pemuda sekarang, semakin banyak organisasi pemuda yang bermunculan, namun mereka tidak lagi memperjuangkan hal yang sama. Tiap-tiap organisasi berdiri di atas kepentingannya masing-masing. Bahkan tak jarang justru terjadi perseteruan di antara organisasi-organisasi tersebut. Seringkali antar organisasi itu saling menjatuhkan satu sama lain. Lalu untuk apa mereka ada?? Nasib rakyat yang mana yang ingin mereka perjuangkan jika mereka sibuk untuk saling menjatuhkan satu sama lain??
Terkadang muncul dalam benak ini, kenapa organisasi-organisasi pemuda tersebut tidak bergabung jadi 1 saja, lalu bersama-sama berjuang dengan cara yang sama untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat??tidak peduli berbeda suku, agama, ras, partai, atau apapun, tapi kita tetap merupakan pemuda Indonesia, yang punya tanggung jawab untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia. Masa depan bangsa ini nantinya ada di tangan kita. Kalau bukan kita sendiri yang merubah nasib bangsa kita, lalu siapa lagi?? Majulah pemuda Indonesia.
(ditulis pada 28 Okt 2011)