Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Friday, April 19, 2013

Tak ada judul



Sudah sekian lama tak merasakan perasaan seperti itu. Perasaan saat pertama kali jatuh cinta. Perasaan bahagia saat membayangkan wajahnya. Rasa deg-deg an saat bertatap muka. Saat-saat mencuri kesempatan untuk bertemu. Saat-saat hati menguasai diri, hingga otak dan hati sering tak seiring. Ah...rasanya sudah tak pernah.
          Mungkin Tuhan memang sedang memberi jeda pada sang hati, untuk mengumpulkan dan menata serpihan-serpihannya yang tercecer. Dan memberi ruang bagi jiwa untuk memperbaiki dirinya. Mungkin juga memberi waktu kepada hati untuk menemukan pelengkapnya. Tak apa, ini juga membahagiakan. Memberi kebebasan kepada jiwa dan otak untuk menemukan tujuannya kembali.
          Bahagia memang tidak harus dinikmati sendiri. Melihat kawan tersenyum bahagia saat jatuh cinta, itu anugerah. Merasakan simpati terhadap kesedihan orang-orang di sekitar, juga anugerah. Bahagia sesederhana itu.
          Rasanya setiap hal memang patut disyukuri. Sekalipun rasa sakit. Setidaknya rasa sakit yang Ia berikan mengajarkan arti kebahagiaan. Tanpa sakit, kita tak akan mengenal bahagia. Pelajaran berharga yang membuat diri semakin dewasa.
          Terimakasih Tuhan, untuk setiap anugerah yang Engkau berikan. Ku mohon jaga hatiku agar tak jatuh sebelum saatnya. Agar tak cinta sebelum menemukan “the right man” yang Kau tuliskan untukku. Dan penuhi hatiku dengan cahaya cintaMu, agar aku mampu mencintai dan dicintai oleh dia yang mencintaiMu J

Monday, April 1, 2013

Masih Adakah Maaf Tersisa



Ya Allah, bolehkah aku menyerah sekarang??
Rasa-rasanya semakin berat
Semakin aku mencoba melangkah, semakin payah aku berjalan
aku tak yakin sisa daya yang kupunya

Ingin berhenti, tak ingin menapaki lagi
cukup sampai disini

Rasa-rasanya cukup banyak pikir dan tenaga terbuang
tapi tak terlihat kondisi berkembang
stagnan, tak ada laju sedikit pun
seakan memang tak ada ujung

Ya Allah
ingin sekali aku menangis
berteriak lantang kepada mereka
“masih adakah sedikit kepedulian kalian terhadap milik kita ini??”
“masih adakah sedikit rasa kalian mereka terhadap kami yang masih berusaha bertahan disini??”
dan aku akan berteriak pada diriku sendiri
“berapa banyak sisa tenaga yang masih kau punya sekarang??”
“berapa lama kau akan sanggup melewati jalan ini dengan luka di sekujur tubuhmu??”

Maaf Tuhan
jika aku memendam kekecewaan terhadap orang-orang ini
terhadap dia, dia, dan masih banyak dia yang lain
terlebih terhadap diriku sendiri
Rasa-rasanya kecewa terhadap dirikulah yang paling besar
ketidakmampuanku menghadapi ini demua
ketidakmampuanku bangkit dari ketidakmampuan itu

Tuhan
masih sanggupkah Kau memaafkanku??
masih sanggupkah Kau memberiku maaf jika aku menyerah sekarang??
masih adakah kata maaf tersisa??

Solo – 20 Okt 2012

Ceritaku



            Entah kenapa akhir-akhir ini sering pusing (dalam arti sebenarnya), sering galau, marah, dan kesel sendiri. Tiap hal kecil yang ga sesuai, amarah udah bisa bikin emosi. Hmmm...memang akhir-akhir ini banyak masalah. Efeknya selain hal-hal diatas, makan jadi ga enak, insomnia tambah parah, dan kalau bisa tidur pun selalu ga nyenyak. Dan saya jadi sering galak ke orang. Sebenarnya saya heran, sejak kapan saya menjadi orang yang begitu peduli terhadap permasalahan-permasalahan yang saya hadapi. Menjadi orang yang begitu serius dan kaku. Padahal dulu saya tipe orang yang sangat cuek terhadap masalah. Tipe orang yang santai, meskipun saya juga bukan tipe orang yang tidak peduli kepada orang lain. Saya selalu membiarkan permasalahan saya sampe selesai sendiri dan berlalu. Mungkin benar kata orang, semakin dewasa kita akan semakin tahu cara menghadapi sesuatu yang terjadi di sekitar kita.
            Tapi saya rindu kepada kepribadian saya yang dulu. Rindu banget. Menjadi orang yang santai dan periang, serta orang yang cerewet dimana-mana. Kalau soal galak sih sebenarnya saya emang galak dari dulu (bawaan orok). Sekarang saya malah terkesan menjadi orang yang serius, kaku, dan njlimet jalan pikirannya. Menjadi orang yang kebanyakan berpikir. Dan akhirnya itu mempengaruhi raut muka saya karena tampilan senyum saya yang manis menjadi berkurang. Bahkan saya suka kesel sama diri saya sendiri yang begitu.
            Hmmm...jika diingat-ingat sejak kapan saya menjadi begini, itu dimulai sejak saya aktif berkarir di organisasi kampus. Awalnya ikut dulu saya cuma iseng, tapi lama-lama karena pengen belajar dan nyari temen yang banyak, saya justru terjebak terlalu dalam pada organisasi-organisasi itu. Dan kebetulan 2 organisasi-organisasi itu merupakan organisasi yang serius (menurut saya), banyak ditempa permasalahan-permasalahan, karena memang yang dilatih soft skillnya selain hard skillnya. Entah bagaimana caranya dan potensi apa yang para senior lihat dari saya, pada akhirnya saya menduduki posisi-posisi penting di organisasi-organisasi itu (padahal saya sendiri ga yakin sama kemampuan saya, tapi ya sudahlah).
            Hari demi hari saya lalui sebagai makhluk organisasi. Semakin lama semakin banyak dan berat permasalahan yang harus dihadapi dan diselesaikan. Menuntut saya, sebagai salah satu pengurus organisasi, untuk selalu berpikir mencari solusi pemecahan setiap permasalahan yang kami hadapi. Dan kebiasaan berpikir ini pada akhirnya menyebabkan saya selalu serius menghadapi segala hal. Seperti sekarang, ketika permasalahan organisasi datang silih berganti dan tak putus seperti rel kereta api, saya tiap hari menjadi galau, bingung, pusing, hilang semangat, dan yang palin parah adalah insomnia saya semakin akut. Ketika yang lain sudah asik mengelana dalam dunia mimpinya, saya masih galau di depan laptop memikirkan solusi masalah tersebut.
            Ya, dalam istilah gaulnya saya berubah menjadi kelelawar malam. Tapi masih mending kelelawar, siangnya masih bisa tidur dengan tenang. Lha saya?? masih tetap harus beraktivitas sembari tetap memikirkan solusi masalah tersebut. Hmmm, berat memang hidup ini. Tapi ya gimana lagi, hidup dan segudang permasalahannya memang harus tetap dijalani. Semoga saya segera kembali ke kepribadian saya yang menyenangkan seperti dulu, kepribadian yang saya sukai. Dan semoga malam (eh pagi) ini saya bisa tidur dengan nyeyak, karena besok pagi-pagi saya harus cus ke kampus buat KRS an lalu bersih-bersih kos baru lagi.
            Baiklah, karena jam sudah menunjukkan pukul 2.39 dan sejam lagi harus bangun buat sahur, saya akhiri dulu ketik-ketiknya. Daaa

*tulisan Agustus 2012

Thursday, December 27, 2012

Good bye 2012, Welcome 2013, Welcome New Life



Akhirnya dengan berbagai peluh, kelelahan, kepenatan, perjuangan fisik maupun mental, tahun 2012 hampir berhasil terlalui. Hanya tinggal menghitung beberapa hari yang tersisa, jarum jam akan dengan pelan namun pasti, akan berganti posisi di tahun 2013. Tak banyak memang capaian prestasi yang mampu terukir di 2012. Justru ukiran-ukiran kenangan buruk yang lebih banyak menghiasi.
          Flash back setahun ke belakang, di awal tahun sudah mencanangkan berbagai rencana. Selesai organisasi, fokus skripsi, lalu wisuda dan melanjutkan petualangan di tempat lain. Namun sekali lagi, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Dimulai dari peran dan tanggung jawab di organisasi yang tak kunjung selesai. Masalah-masalah yang seakan tak memberi jeda bahkan hanya untuk sekedar bernafas. Rentetan-rentetan stres yang mengiringi.
          Hmm, seharusnya sadar, bahwa ketika memutuskan menjalani suatu peran, akan ada tuntutan tanggung jawab dan resiko yang mesti dijalani. Suatu hal yang sangat wajar memang, ketika organisasi diguncang masalah. Dan sudah seharusnya mampu melewatinya. Tapi justru ini menimbulkan kekecewaan. Kekecewaan mereka yang berharap lebih kepada saya, namun kemudian justru kekecewaan terbesar yang datang dari diri saya sendiri. Kekecewaan ketika tak mampu memberikan yang terbaik seperti yang sudah dijanjikan dan diharapkan. Kadang terpikir, tak seharusnya saya ada di posisi ini, tak seharusnya dengan pedenya saya dulu menerima tawaran mengemban amanah ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur (bubur ayam bang Sulam #halah), apa yang sudah terjadi di masa lampau tak akan mampu dirubah. Berusaha tetap menjalani dan memberikan yang terbaik di sisa waktu di organisasi ini.
          Begitu pula dengan skripsi. Beban sebagai mahasiswa semester akhir yang dituntut segera meletakkan status sebagai mahasiswa, berganti status menjadi pekerja. Tuntutan yang sampai detik ini belum berhasil saya penuhi. Wajar bila tekanan-tekanan dari orang tua dan orang-orang terdekat semakin hebat. Janji untuk selesai organisasi dan wisuda di tahun ini masih menjadi angan. Angan yang masih terus berusaha untuk digapai, walau harus memundurkan target. Maaf terbesar untuk bapak ibu atas usaha saya yang kurang maksimal dalam melaksanakan janji itu.
          2012, seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu penuh dengan warna. Meskipun hitam dan abu-abu masih menjadi background tahun ini. Goresan-goresan luka yang tercipta dan diciptakan semakin bertambah. Begitu pula dengan ukiran-ukiran keceriaan. Ketidakpastian masih menjadi bayangan yang mengiringi. Bila diingat, banyak luka yang masih harus dirasakan di tahun ini. Begitu pula luka yang saya ciptakan sendiri untuk orang-orang di sekeliling saya. Emosi masih menjadi yang paling dominan menguasai diri. Dalam usia 21 tahun, seharusnya saya mampu menjadi lebih dewasa dan memanajemen diri. Tapi nyatanya, saya masih sering lost control  dalam menghadapi masalah.
          Seringkali rasa dendam dan marah menjadi penyebab tidak mampunya saya melihat masalah secara jernih. Bukan maksud hati ingin dendam dan membeci, tapi saya hanyalah manusia biasa. Goresan luka yang pernah tertoreh akan selalu meninggalkan bekas meskipun lukanya telah hilang. Dan saya tipikal orang yang sulit menghapus rasa sakit di masa lampau. Seringkali saya masih mampu pura-pura tersenyum di depan orang yang menggoreskan luka sangat dalam di hati saya, sambil berharap senyum itu akan mampu menutupi rasa sakitnya. Tapi sekuat apapun saya berusaha untuk tegar, hati tetap tak mampu menutupi. Saya cenderung menjauhi mereka. Seringkali tubuh menolak untuk berinteraksi dengan mereka, meski hanya sekedar mengobrol. Mungkin itu sebabnya saya tak bisa dekat dengan mereka. Meskipun saya masih berusaha menghilangkan luka-luka tersebut dan bersikap objektif terhadap mereka. Satu prinsip saya, saya paling takut membenci orang.
          Di penghujung tahun ini, saya berjanji luka-luka tersebut akan saya tutup sepenuhnya, tak lagi menjadi cerminan saat menghadapi masalah. Saya hanya ingin hati saya bersih, seperti yang Tuhan dan orang tua saya ajarkan. Saya ingin menjadi lebih dekat dengan Tuhan, menjadi pribadi baru yang semakin disayangiNya. Terimakasih Tuhan, untuk segala anugerahMu di sepanjang 2012ku. Terimakasih Engkau memberikan orang yang selalu memberi nasehat dan mengingatkan di kala saya salah. Terimakasih Engkau masih memberi saya kepercayaan untuk bernafas di bumiMu, kepercayaan untuk memiliki tekad berubah lebih baik. Terimakasih untuk segalanya. Dan beri aku kemampuan untuk mencapai segala anganku di tahun depan, dengan segala petunjuk dariMu. Aamiin...
Good bye 2012, Welcome 2013, Welcome New Life J

Saturday, October 20, 2012

Masihkah ada maaf tersisa




Ya Allah, bolehkah aku menyerah sekarang??
Rasa-rasanya semakin berat
Semakin aku mencoba melangkah, semakin payah aku berjalan
aku tak yakin sisa daya yang kupunya

Ingin berhenti, tak ingin menapaki lagi
cukup sampai disini

Rasa-rasanya cukup banyak pikir dan tenaga terbuang
tapi tak terlihat kondisi berkembang
stagnan, tak ada laju sedikit pun
seakan memang tak ada ujung

Ya Allah
ingin sekali aku menangis
berteriak lantang kepada mereka
“masih adakah sedikit kepedulian kalian terhadap milik kita ini??”
“masih adakah sedikit rasa kalian mereka terhadap kami yang masih berusaha bertahan disini??”
dan aku akan berteriak pada diriku sendiri
“berapa banyak sisa tenaga yang masih kau punya sekarang??”
“berapa lama kau akan sanggup melewati jalan ini dengan luka di sekujur tubuhmu??”

Maaf Tuhan
jika aku memendam kekecewaan terhadap orang-orang ini
terhadap dia, dia, dan masih banyak dia yang lain
terlebih terhadap diriku sendiri
Rasa-rasanya kecewa terhadap dirikulah yang paling besar
ketidakmampuanku menghadapi ini demua
ketidakmampuanku bangkit dari ketidakmampuan itu

Tuhan
masih sanggupkah Kau memaafkanku??
masih sanggupkah Kau memberiku maaf jika aku menyerah sekarang??
masih adakah kata maaf tersisa??

Solo – 20 Okt 2012