Tuesday, October 23, 2012

Candu Rindu



Rindu ini semacam candu
yang bahkan tak mampu terpuaskan walau sudah terobati
mengikat, menyebabkan ketagihan

Terbiasa aku menikmati candu ini
sengaja aku tak mengobati
biar saja menumpuk, agar lebih merasuk
hingga nanti mampu terpuaskan
ketika ku temukan obatnya

Ah tapi sepertinya sama saja
rindu ini tak pernah puas memang
seribu kali pun ku memelukmu dalam bayangan
tetap saja ada rindu yang kutemukan

Biar saja rindu ini menjadi candu
candu yang mengikatku
agar tak lari darimu

Candu ini kunikmati sebagai sajian
saat aku kesepian

Padamu canduku
obati rinduku


Solo, 24 Oktober 2012

Saturday, October 20, 2012

Masihkah ada maaf tersisa




Ya Allah, bolehkah aku menyerah sekarang??
Rasa-rasanya semakin berat
Semakin aku mencoba melangkah, semakin payah aku berjalan
aku tak yakin sisa daya yang kupunya

Ingin berhenti, tak ingin menapaki lagi
cukup sampai disini

Rasa-rasanya cukup banyak pikir dan tenaga terbuang
tapi tak terlihat kondisi berkembang
stagnan, tak ada laju sedikit pun
seakan memang tak ada ujung

Ya Allah
ingin sekali aku menangis
berteriak lantang kepada mereka
“masih adakah sedikit kepedulian kalian terhadap milik kita ini??”
“masih adakah sedikit rasa kalian mereka terhadap kami yang masih berusaha bertahan disini??”
dan aku akan berteriak pada diriku sendiri
“berapa banyak sisa tenaga yang masih kau punya sekarang??”
“berapa lama kau akan sanggup melewati jalan ini dengan luka di sekujur tubuhmu??”

Maaf Tuhan
jika aku memendam kekecewaan terhadap orang-orang ini
terhadap dia, dia, dan masih banyak dia yang lain
terlebih terhadap diriku sendiri
Rasa-rasanya kecewa terhadap dirikulah yang paling besar
ketidakmampuanku menghadapi ini demua
ketidakmampuanku bangkit dari ketidakmampuan itu

Tuhan
masih sanggupkah Kau memaafkanku??
masih sanggupkah Kau memberiku maaf jika aku menyerah sekarang??
masih adakah kata maaf tersisa??

Solo – 20 Okt 2012

Friday, October 19, 2012

Getar Biasa



Kali ini ada yang berbeda
rasa yang berbeda
tak ada lagi getar itu
tak ada lagi “deg-deg an” saat menemuimu
semua telah biasa

Kembali seperti semula
seperti saat pertama berjumpa
tanpa getar, tanpa rasa

Luar biasa
pesonamu tak sirna
Hanya hatiku yang tak lagi memiliki rasa
biasa, seolah tak pernah ada

Harus kuakui ada rasa yang lain
pada dia yang bukan engkau
pada dia yang diam-diam membuatku jatuh
aku tak tau samakah rasa ini dengannya
hanya saja ia berhasil menggeser posisimu

Tidak, tidak, ia bukan pemain cadangan yang ditugaskan untuk menggantikan posisimu
Ia pemain baru yang sudah lama ku kenal
dengan pesona dan kemampuan yang berbeda denganmu

Getar yang dulu kusimpan untukmu
Biarlah kini ia menjadi milik yang lain
Toh, kau juga sudah menetapkan keputusan
pada siapa getarmu kau berikan
bukan untuk ku

Getar itu, sudah biasa
J

Friday, October 12, 2012

Nantikanku di Batas Waktu



Hari ini aku kembali ke kota rantauku, Solo, setelah seminggu lamanya menikmati kemewahan di rumah tercinta. Meneruskan aktivitas sebagai mahasiswi tingkat akhir yang harus menyelesaikan syarat bagi gelar sarjana yang kelak akan kusandang. Berbeda dengan biasanya, pagi  ini aku memilih naik kereta ekonomi Madiun Jaya. Biar lebih nyaman dan nggak kesiangan nyampe solo dan bisa ke kampus, pikirku. Jam 05.50 aku sampai di stasiun Madiun, beli tiket, dan langsung ku naiki kereta yang sudah terparkir. Ah, masih sekitar setengah jam lagi berangkatnya. Langsung ku pilih gerbong 1 kursi nomor 2 kiri dari pintu dan aku duduk di dekat jendela. Penumpang lain hilir mudik menaiki kereta yang masih sepi, mencari kursi nyaman mereka masing-masing.
          Semakin siang dan semakin ramai. Semoga nggak ada yang duduk di sebelahku. Ya, aku memang lebih suka duduk sendiri kalo menggunakan transportasi kereta jarak dekat. Tujuannya agar tak ada yang mengajakku mengobrol dan aku dapat menikmati pemandangan di tepian rel sepuasnya. 06.15 WIB, kereta mulai bergerak ke arah barat, berjalan perlahan menjauhi sinar matahari yang terpancar dari arah timur. Syukurlah aku memang duduk sendiri.
          Dalam teraturnya perjalanan kotak besi ini ke tujuannya, tiba-tiba aku membayangkan kau berjalan melintasi gerbong kereta ini, lalu tiba-tiba menyapaku, dan duduk di kursi depanku. Lalu kita akan mengobrol sepanjang perjalanan. Meskipun aku akan turun lebih dulu di Solo, dan kau akan melanjutkan perjalananmu ke Jogja. Tiba-tiba aku tersadar. Ah, itu nggak mungkin. Kamu kan sekarang sudah di Bandung. Nggak mungkin kalo kamu tiba-tiba muncul di kereta ini. Ah, bodohnya.
          Namun aku meneruskan menikmati lamunanku. Biar saja, toh ini menyenangkan. Setidaknya lamunan ini tak membuatku merasa kesepian. Kau tahu, dari dulu aku berharap kita bisa naik kendaraan yang sama dalam satu waktu perjalanan, entah perjalanan pulang atau kembali ke kota rantau masing-masing. Seringkali aku berharap suatu saat kita bertemu di bis tiba-tiba, lalu kita duduk sebangku. Pasti perjalanan dengan Sumber Kencono tak akan memuakkan dan memualkan seperti itu. Tapi ku pikir, kau pasti akan memilih transportasi lain selain Sumber Kencono :D
          Aku juga berharap kalo aku lagi main ke Jogja, tiba-tiba kita ketemu di tempat yang aku kunjungi. Setidaknya walau kita cuma akan saling sapa atau mengobrol sebentar, aku bisa melihatmu. Aku ingin melihat perubahan penampilanmu setelah beberapa tahun tak bertemu. Tapi sayangnya itu tak pernah terjadi, bahkan sampai kau meninggalkan Jogja dan merantau ke kota lain demi pekerjaanmu. Tapi alhamdulillah Allah masih mengijinkan kita bertemu dan bersilaturahmi meski hanya di dunia maya J
          Oya, seminggu di kota kita ternyata aku baru tau kalo banyak sekali perubahan di wajah kota tercinta. Alun-alun, masjid agung, toko-toko terlihat lebih cantik dan indah. Kota ini semakin ramai dengan anak-anak muda yang hobi nongkrong malem-malem. Oh iya, aku sempet lewat sekolah kita dulu. Aneh, tiba-tiba aku merasa deg-deg an. Lalu rindu. Rindu pada aktivitas di sekolah itu dulu. Rindu pada kenangan yang pernah  kita dan semuanya torehkan di sana. Dan tiba-tiba rindu pada.......kamu.
          Ah, akhir-akhir ini jadi sering buka buku memory SMA, melihat fotomu, membaca kata-kata yang kau tuliskan disana. Meskipun ku tatap ratusan kali pun biomu di situ tak akan berubah satu huruf pun. Tapi entah kenapa tanganku selalu tergerak untuk membukanya. Melihatnya lama, lalu teringat semua kenangan tentangmu, kalimat sapaan khusus kita, guyonan kita ketika pertama kali kita mengobrol, dan juga kebiasaanku mencari-cari kesempatan untuk bertemu denganmu saat pergantian jam pelajaran.
          Sekian tahun tak bertemu, kita dipertemukan di dunia maya. Kau memang telah berubah. Menjadi kau yang semakin baik. Semakin dekat dengan ajaran agama. Subhanallah. Kau tau?? aku begitu rajin membuka catatan percakapan kita. Membaca dan mengingat pesan yang tidak pernah lupa kau selipkan untukku di setiap akhir percakapan kita. Lalu perlahan-lahan mempraktekkannya di hidupku. Juga doamu untukku agar aku segera lulus. Semoga aku segera menyusulmu yaa...
          Dan aku pun merasakan kembali getar-getar lama yang sempat redup. Ah entah apa ini namanya. kagum atau cinta kah?? yang jelas aku terpesona pada nasehat-nasehatmu. Terpesona pada kata-kata indahmu yang senantiasa mengingatkan kepada Ia Sang Maha Pencipta. Aku selalu merindukan setiap ajaran baik yang kau contohkan padaku.
          Semoga apapun rasa ini, akan diberikan ujung yang indah olehNya yaa J Kita sama-sama diberikan waktu untuk terus memperbaiki diri. Semoga apabila memang rasa ini direstui olehNya, kita akan disatukan dalam halalNya yang indah. Aamiin yaa Rabb...
Nantikanku di batas waktu yaa J

Di kedalaman hatiku
Tersembunyi harapan yang suci
Tak perlu engkau menyangsikan
Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata
(Edcoustic)

Thursday, September 13, 2012

Senja dan Fajar


Sore ini aku menikmati senja yang terbentang di hadapanku. Entah kenapa terasa sedikit berbeda. Mungkin karena aku menikmatinya denganmu.
Namaku Senja. Dan namamu Fajar. Tapi ada yang aneh dengan diri kita. Kau suka senja, tapi tak suka Fajar. Sementara aku suka Fajar, tapi tak suka senja. Seringkali aku berpikir mungkin masing-masing orang tua kita terbalik memberikan nama pada kita. Tapi sore ini kita berdua begitu menikmati rona merah matahari senja di hadapan kita.
“Kau tau, aku sangat suka senja,” ucapmu mengawali pembicaraan diantara kita.
“Kenapa??”, tanyaku tak acuh
“Senja itu menenangkan. Kau lihat warna merah yang tergurat menghiasi matahari senja itu?? itu begitu indah dan mendamaikan”, jawabmu sambil tetap memperhatikan matahari senja yang semakin tenggelam.
“Aku tak suka senja”, balasku ketus.
Kau menatap dengan heran kepadaku.
“Aku lebih suka fajar. Bagiku fajar itu semangat, awal kehidupan. Fajar menjadi alarm bagiku untuk kembali bekerja keras. Ya, bagiku hidup adalah kerja keras”, ujarku tanpa kau tanya padaku.
Lalu kembali kita masing-masing terdiam. Menikmati matahari senja yang semakin tenggelam untuk kembali ke peraduannya.

***
“Hey, namaku Fajar”, ucapmu tiba-tiba padaku sambil mengulurkan tanganmu.
Aku menengadah, mengalihkan tatapan dari bungkusan kardus berisi buku-buku itu. Aku terkejut, apa-apaan cowok ini, pikirku.
“Oh, mungkin kau kaget. Bolehkah aku berkenalan denganmu?? namaku Fajar, Ketua Yayasan Pemuda Peduli ini”, ucapmu sekali lagi memperkenalkan diri.
“Oh, namaku Senja”, ucapku sembari menerima uluran tanganmu.
“Kamu anak baru yaa??ku lihat baru kali ini kau ikut acara ini”, tanyamu.
“Bukan, aku cuma diajak temenku kesini”, jawabku.
“Oh, baiklah. Aku kesana dulu yaa, bantuin yang disana”, ujarmu.
“Oke”, kataku.
***
Semenjak perkenalan itu sepertinya waktu semakin mendekatkan kita. Semakin sering kita bersama, semakin nyaman aku di dekatmu. Dan semakin sering kita menikmati senja berdua.
Hingga tanpa kita sadari hadir sebuah rasa baru di hati kita. Awalnya aku sama sekali tak menganggapmu menarik. Wajahmu tak terlalu tampan, meski cukup manis dilihat. Tinggimu sedang, dan gaya bicaramu ceplas-ceplos.
Awalnya aku membencimu. Seringkali kau coba mengajakku bercanda dengan leluconmu yang garing. Menanyaiku hal-hal yang menurutku tidak penting. Tapi lama kelamaan itu yang membuatmu lucu di mataku. Kau juga baik, pintar, dan bijaksana. Semakin menambah pesonamu.
Seringkali kita bertengkar untuk hal-hal yang tak penting. Menanyakan kenapa kau bernama Fajar tetapi tak menyukainya, begitu pula denganku. Memperdebatkan seharusnya kita bertukar nama saja tapi akhirnya sadar nama itu cocok dengan jenis kelamin kita. Hingga akhirnya kita mampu menerima dan menyadari, Fajar menyukai senja, dan Senja menyukai fajar.
Mungkin perbedaan itulah yang menyatukan kita. Senja dan Fajar yang saling melengkapi. Tak ada senja tanpa fajar. Dan tak ada fajar tanpa senja.

***
Hari ini di tepi pantai Parangtritis. Kau tuliskan sebuah nama di pasir ketika senja mencapai ujungnya. Senja Feyra Utami. Itu namaku. Sembari menggenggam tanganku kau berpamitan. Kau akan pergi, ke kota dimana senja dan fajar hanya bisa kau tatap sebentar. Kota yang pernah menjadi impian kita, sebagai senja dan fajar yang akan bersinar disana.
“Tunggu aku kembali disini”
itu pesan terakhirmu sebelum berangkat.

***
Sore ini aku kembali kesini. Menikmati senja sendirian. Ku lukis indah senja yang dulu ku lihat di matamu. Perlahan-lahan ku tuliskan namamu di pasir pantai, berharap mampu menyatu dengan kedamaian senja sore ini. Fajar Hermawan. Kurangkai harap agar kau segera kembali.
Ku tunggu kau disini, menggenggam janji yang kau ucap. Meski senja dan fajar terus berganti hari J



perbedaan jadi tidak berarti
karena hati telah memilih
di mataku kita berdua satu
apapun yang mengganggu
cinta takkan salah
(Cinta Takkan Salah – Gita Gutawa ft Derby Romero)

Tuesday, September 11, 2012

Ya Allah, Aku Jatuh Cinta

Ya Allah, yang membolak-balikkan hati kami...
Selama ini aku tidak pernah tahu
bagaimana rasanya mencinta
Namun, aku berharap
bila cinta hadir menyapaku
aku tidak akan kehilangan Engkau

Ya Allah, selama ini aku hanya berharap
Semoga bisa mencintai
Orang yang memiliki cinta yang luar biasa kepada-Mu

Ya Allah, selama ini aku juga berharap
Semoga bisa dicintai
Oleh orang yang bisa mengarahkanku
Menuju keridhaan-Mu

Pintaku ya Allah,
Ijinkan aku memiliki rasa ini
Hingga ia menjadi indah di dada kami
Tanpa mengurangi rasa cinta kami kepada-Mu...


(dikutip dari buku "Ya Allah, Aku Jatuh Cinta"-Burhan Sodiq)